Arti Sebuah Persahabatan

Posted by Yuvz Vrinc on 01:00 AM, 11-Jul-13

Under: Artikel Menarik , Cerpen

Arti Sebuah Persahabatan
#Maria & Amira#
Oleh : E.S.Pril11

Tak habis pikir Maria yang memikirkan kado untuk ulang tahun sahabatnya, Amira. Besok lusa acara ulang tahun Amira. Bagaiamana mencari uang untuk kado ulang tahun Amira? Uangnya saja tidak cukup untuk membeli kadonya.Meminta uang pada orang tuanya? Tetapi Maria tidak berani meminta uang kepada Ibunya karena Maria tahu bahwa hidup beban Ibunya sungguh berat. Jadi mau bagaimana lagi?

Setelah itu, Maria memberanikan diri meminta uang pada Ibunya. “Ibu, Maria boleh minta uang?” dengan hati Maria yang sedikit ketakutan jika Ibunya menjadi sedih. “Untuk apa, nak?” tanya Ibunya pada Maria,anaknya. Lalu mulut Maria bergetar-getar pertanda sangat takut jika Ibunya menjadi sangat sedih. “Anu, Ibu. Maria mau minta uang untuk kado ulng tahun sahabat maria untuk besok lusa.” Selesai bicara, hati Maria menjadi tidak tenang. Begitu mendengar pembicaraan dari Maria, Ibunya menjadi sedih. “Maria, bukannya Ibu tidak ingin memberikan uang kepadamu. Kamu mengertikan penghasilan Ibu dari berjualan kue. Apalagi Ayahmu sedang sakit hanya Ibu saja yang bekerja untuk mencukupi kebutuhan kita. Bulan ini saja Ibu harus membayar uang sekolah kamu dan kedua adikmu.Maafkan Ibu ya, Maria.”

Maria tidak dapat berkata apa-apa lagi. Maria sudah menduga jawaban yang akan diberikan oleh Ibunya. Maria memang harus mengerti bahwa bukan hal yang mudah untuk membeli kado, mengingat penghasilan Ibuya yang tidak seberapa dan Maria tidak dapat memaksakan kehendaknya.

Keesok harinya, pada waktu istirahat sekolah. Amira dan Maria pergi ke tempat kesukaan bagi mereka yaitu berteduh di pohon yang rindang karena bagi mereka, disana tempat berlindung dari cahaya matahari dan dingin karena uadara angin dan juga suasananya membuat tenang bagi mereka.”Maria, aku membawakan gelang tanda persahabatan ini untukmu sebagai kenang-kenangan kita. Kamu suka gelang ini yang kuberikan?”Ujar Amira sambil menyerahkan gelang tanda persahabatan pada Maria. Maria menjadi senang karna menyukainya. Tetapi, ada orang lewat yang mendengar percakapan mereka. “Lebih enak bersahabat dengan satu agama daripada beda agama” katanya salah satu teman Amira yang bernama Luna. Begitu Maria mendengar percakapan Luna yang tadi barusan. Sebenarnya Maria orang beragama Kristen sedangkan Amira orang beragama Islam. “Apa yang kulakukan?haruskah aku menerima pemberian dari Amira?ataukah aku menolaknya?” bisik dalam hati Maria. Sebenarnya Maria senang bersahabat dengan Amira tetapi Maria tidak ingin mempermalukan sahabatya jika beda agama.

Akhirnya, Maria memutuskan pilihannya yaitu mengembalikan gelang tanda persahabatan pada Amira.”Amira...gelang tanda persahabatan ini untukmu saja. Terimakasih sebelumnya tapi maafkan aku karna aku tak bisa menerima gelang tanda persahabatan darimu.” Tak kuasa menahan air matanya Maria langsung pergi meninggalkan sahabatnya, Amira.
Amira menjadi bingung melihat tingkah laku yang aneh, sahabatnya tidak melakukan seperti biasa. “Maria...Tunggu...”Teriak Amira, tapi tak sempat dia ucapkan pada Maria. “Maria...kamu kenapa?Apakah kamu baik-baik saja?” bisik hati Amira yang lemah.
Setelah sepulang sekolahnya, sesampai kerumahnya. Maria mendengar percakapan dari kedua orang tuanya. Tapi,ups. Begitu kaget mendengar pembicaraan dari kedua orang tuanya Maria. “Apa?Pindah?” kata-kata yang terucap dari mulut Maria yang begitu sangat kaget.

“Ya Tuhan...Kenapa bisa begini? Haruskah aku merelakan berpisah dengan sahabatku tersayang dan mengikuti kedua orang tuaku? Ini tidak mungkin!!!”bisik tangis Maria yang terisak-isak sehingga hatinya menjadi sangat sakit. Teringat kenangan bersama dengan Amira kini menjadi pahit. Terus bagaimana kado terakhir untuk sahabatnya? Maria berusaha mencari akal.

Setelah lama kemudian “aha! Kini aku punya ide.” Senyum Maria karena mendapatkan akalnya. Maria mengambil kotak musik dari kamar Maria tentu kotak musik itu milik Maria. Kotak musik yang berwarna merah gelap berkilau namun sudah lama tetapi masih bagus karna selalu merawatnya hingga kini tetapi kotak musik tidak seberapa mewah. Begitu senang mendapat akalnya tetapi Maria masih sedih karena kado terakhir untuk sahabatnya dan juga Maria harus ikut pindah ke Jakarta mengikuti kedua orang tuanya.

“Amira...maafkan aku,ya... Mulai besok aku harus ikut pindah bersama kedua orang tuaku ke Jakarta karena pekerjaan orang tuaku. Disanalah yang kutempati. Jadi, ku harus merelakan berpisah denganmu...” bisik dalam hati Maria yang masih terisak-isak. Tak mampu menahan air mata kini membasahi pipi Maria.

Hari yang ditunggu telah tiba yaitu ulang tahun sahabatnya,Amira. Dan juga mau berangkat ke Jakarta bersama kedua orang tuanya. Hati Maria menjadi bimbang ketakutan jika sahabatnya menjadi sedih bahwa Maria mau berangkat. Ditengah kebimbangan hatinya, Maria melangkahkan kakinya menuju kerumah Amira. Dari kejauhan tampak ramai sekali. Tak terasa Maria sudah berada didepan pagar rumah Amira. Maria enggan masuk kerumah Amira. Sesaat Maria memandangi kado yang dikasihnya untuk Amira. ”Ah, Amira pasti sedih bila aku memberitahukan bahwa sekarang aku harus pergi.”Ujar Maria dalam hati.
“Maria, kamu tidak masuk?”tanya Robby teman sekelas Maria ternyata ada dibelakangnya. “Tidak, Robby. Aku harus pulang. Aku titip hadiah ini saja, ya untuk Amira” Maria menjawab sambil menyerahkan sebuah bingkisan kecil kepada Robby. Tak kuasa menahan air matanya yang mulai meneteskan air matanya. Lalu Maria berlari meninggalkan Robby yang masih terdiam tidak mengerti. Oleh Robby diberikannya bingkisan itu kepada Amira.
“Lho, Maria kemana?”tanya Amira heran.
“Tidak tahu,Amira. Tadi dia bilang dia harus pergi. Dia menitipkan hadiah ini padaku.” Jawab Robby.
Amira hanya terdiam memandangi hadiah dari Maria, “Tidak mungkin. Maria sahabatku. Dia sudah berjanji akan datang ke pesta ulang tahunku.” Bisik Amira dalam hatinya.
Segera dibukanya hadiah dari Maria. Ternyata sebuah kotak musik.Dan... ada sebuah sepucuk surat. Amira segera membaca surat itu tertulis kata-kata...
“Maafkan aku ya,Amira... karena aku tidak bisa datang ke pesta ulang tahunmu bukannya aku tidak ingin. Tetapi, aku tidak ingin membuatmu sedih didepan umum dengan kehadiranku karena aku mau pindah ke Jakarta mengikuti kedua orang tuaku dan juga bersama kedua adikku. Jadi, kurelakan meninggalkanmu.Dan juga maafkan aku karna kado ini yang ku berikan untukmu tak seberapa istimewah.Dan satu lagi, aku tidak ingin mempermalukanmu jika bersahabat denganmu bila kita beda agama. Dari sahabatmu, Maria”.
“Maria...” hanya itu kata yang terlempar dari mulut Amira. Ia segera berlari keluar. Ia tidak peduli ramainya acara sedang berlangsung. Amira percaya bahwa Maria pasti sedang sedih. Amira berlari mengejar Maria. Diujung jalan, Amira melihat Maria sedang berjalan menunduk.
“Maria... Tunggu aku...” teriak Amira. Maria tersentak kaget. Segera dibaliknya tubuhnya. Amira berlari lebih cepat dan segera memeluk Maria. Tak kuasa Maria menahan air matanya. Maria berujar dengan terisak.
“Maafkan aku, Amira...”
“Sudahlah,Maria... Buatku apapun yang kau berikan kepadaku yang tak seberapa istimewah tapi ini sangatlah berarti bagiku. Karna engkau adalah sahabatku. Namun walau kita berpisah tetapi hati kita selalu dekat. Ku yakin, kita pasti bisa bertemu suatu saat nanti dan kembali bersahabat seperti dulu. Tetapi kalau pesta ulang tahunku begini walau kau mau pergi, yang kuharapkan hanya satu darimu yaitu kehadiranmu yang membuat hatiku senang karena kau mau tampil apa adanya.” Jawab Amira. Dipandangnya wajah Maria yang masih basah pipi karena tersiram air mata. Dihapusnya airmata Maria dengan tangan Amira dengan cara yang lembut. Lalu membukakan kotak musik dari Maria.
Maria tersentak. “Bukankah kotak musik itu hadiah dariku,Amira?” Tanya Maria.
“Betul, Maria. Buatku hadiah dari seorang sahabat sangatlah berarti, sekalipun sederhana. Aku akan menyimpannya. Terimakasih, ya... Ini hadiah terindah yang kudapatkan,” Amira berkata dengan tulus.
Maria sangat terharu sekali. Dipeluknya kembali sahabatnya itu. Maria bersyukur karna memiliki sahabat sejati yang menerima dirinya apa adanya.
Tak lama, Amira menggandeng tangan Maria. “Ayo, Maria. Kita ke pesta ku. Akan kukenalkan kau sebagai sahabatku sebelum kau pergi ke Jakarta,” Ujar Amira. Maria tersenyum bahagia.
SELESAI.

“Persahabatan tidak dibentuk dari kepintaran atau kekayaan. Tidak pula dibentuk dengan kecantikan atau ketampanan. Akan tetapi dibentuk oleh ketulusan untuk saling memberi dan saling menerima.”

Share on Facebook Share on Twitter

Comments

4 responses to "Arti Sebuah Persahabatan"

DOWNLOAD MP3 DAN VIDEO KLIP on 02:20 AM, 11-Jul-13

Cerpennya kepanjangan lagi sib biggrin

Phejhenkbocahrantau on 03:34 AM, 11-Jul-13

Waduh panjang juga nie cerpenyabiggrin

YANTO PLPK on 04:11 AM, 11-Jul-13

met sahur aja...

Zackyra on 04:18 AM, 11-Jul-13

ga sempat baca...

Subscribe to comments feed: [RSS] [Atom]

New Comment

[Sign In]
Name:

Comment:
(Some BBCode tags are allowed)